Belajar Mengambil Resiko Bisa Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Ayah lebih memberi kesempatan anak dalam belajar mengambil resiko dibanding ibu, benarkah?

Sangat penting bagi anak kecil untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Tetapi semangat petualang si kecil sering kali tertahan oleh orang tua yang over protective. Dengan memberi kesempatan anak untuk belajar mengambil resiko, maka orang tua telah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.


Meski tidak tumbuh dalam keluarga ‘Jowo totok’, FunkyMami juga terbiasa dengan seabrek pakem-pakem yang harus dianut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk urusan mengasuh anak. Begitu bayi lahir, sederet aturan, ritual, kepercayaan dan pamali sudah menanti, yang terus terang, menurut FunkyMami kebanyakan terlalu over protective. Salah satu aturan yang masih sering dianut sampai sekarang adalah bayi baru boleh ‘turun tanah’ setelah menginjak umur 6 bulan *atau 7 bulan ya? Ma’af, dah lupa…* Sekali lagi, menurut FunkyMami,*yang belum tentu sejalan sama pendapat Bu Djoko lho!* aturan – aturan tak tertulis tersebut secara tidak langsung telah membatasi ruang gerak anak dalam mengeksplorasi dunia di sekitarnya, yang akibatnya anak kurang mendapat kesempatan untuk belajar mengambil resiko.

Kata Bu Djoko:

“Budi, larinya jangan kenceng-kenceng, ntar kesandung!”
“Eit, nggak boleh manjat nak, nanti jatuh!”
“Naik sepedahnya pelan-pelan ya, biar nggak nabrak.”

Jangankan memberi kesempatan si Budi untuk mengambil resiko, melihat si Budi bergerak agak kenceng aja, Bu Djoko langsung membayangkan sirene ambulans. Tapi Bu Djoko tidak sendiri. Kebanyakan ibu-ibu lainnya juga begitu, paling takut memberi kesempatan anak dalam mengambil resiko. That is the mother’s nature of women ibu-ibu, terlalu khawatir! *termasuk yang nulis. He…he…he..* Yang lebih parah ibu-ibu, terima atau tidak, sekarang sudah ditemukan bukti-bukti bahwa dalam urusan memupuk semangat dan memberi kesempatan anak untuk belajar mengambil resiko, para bapaklah yang menduduki peringkat lebih tinggi dibanding para ibu. Pokoknya, bagi kebanyakan anak, papa lebih cool dibanding mama yang suka menjerit ketakutan!

Oke, anak jatuh. Lalu kenapa? Jalan licin, naik sepedah, lari, manjat dan gerakan-gerakan lainnya pasti tidak lepas dari resiko jatuh. Tapi jika anak tidak diberi kesempatan untuk mencoba mengambil resiko, bagaimana mereka tahu cara menghindari resiko tersebut pada kesempatan berikutnya? Selama kegiatan belajar mengambil resiko tersebut masih dalam skala ‘aman’, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan kecelakaan-kecelakaan kecil yang mungkin menimpa. Yah, nulis sih gampang, coba dipraktekkan…”Stop…jangan jungkir balik, ntar gegar otaaakkk!” *Gimana anak bisa jadi atlit nasional, kalau jungkir balik aja dilarang…

Dalam sebuah penelitian, beberapa ahli dari Kanada mengamati bagaimana para orang tua bersikap ketika anak-anak mereka yang berumur satu tahun-an ditempatkan dalam situasi yang berbeda-beda. Salah satu situasi, ketika anak berusaha menaiki anak tangga untuk meraih mainan di atas. Umumnya para ibu langsung bergerak mendekat dan memberi lebih sedikit kesempatan buat anak untuk mencoba mengambil resiko. Sementara, tindakan yang dilakukan para bapak lebih tepat, yaitu memberi kesempatan anak untuk mengeksplorasi dengan cara-cara aman dan terkontrol.

Agar anak mendapatkan rasa percaya diri, orang tua tidak seharunya berada terlalu jauh atau terlalu dekat. Demikian kata Professor Daniel Paquette dari University of Montreal. Jarak ideal antara anak dan orang tua adalah sepanjang jangkauan tangan.

Yang menarik, orang tua lebih memberikan kebebasan pada anak laki-laki dalam mengambil resiko dibanding anak perempuan. Dalam urusan mengasuh anak perempuan, para bapak pun cenderung lebih ‘berhati-hati’ dibanding dengan anak laki-laki.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa cara bapak ataupun ibu dalam mengasuh anak adalah saling melengkapi. Bahkan dalam mengganti popok atau memberi minum botol, cara bapak berbeda dengan cara ibu. Dengan membolehkan anak untuk mengambil resiko yang terkontrol, seorang bapak telah memberi sesuatu yang berbeda dan anak bisa mendapat benefit yang besar dari kontribusi tersebut.

Roti sayuran

Roti sayuran

Susahnya punya anak yang susah makan. Apalagi kalo yang nggak suka sayuran seperti si Bogang. Tiap hari dituntut harus ulet dalam mengolah makanan dan sering-sering buka internet buat nyari resep baru. Baru-baru ini FunkyMami nemu resep dari majalah. Setelah dicoba, berhasil. Lumayan enak sih, cuman yaitu, rotinya ’stuffy’ banget alias bikin kenyang. Jadi habis makan satu iris, si Bogang dah ogah nambah. Untungnya, roti bisa disimpan dalam lemari es, dan bisa dipanaskan dengan microwave, asal nggak lebih dari dua hari…

Porsi: 12 iris

BAHAN:
  • 1 1/2 cangkir tepung self-raising
  • 4 telur
  • 1 bawang bombay ukuran besar, iris kasar
  • 4 courgette ukuran kecil, kupas dan parut
  • 3 wortel, kupas dan parut
  • 1/4 cangkir minyak zaitun
  • 1 1/2 cangkir keju Cheddar parut (atau Gouda)
  • 1/2 sdt garam
  • 1/4 sdt merica bubuk
  • Mentega untuk mengoles loyang
CARA:
  1. Panaskan oven 180°C/350°F/Gas Mark 4
  2. Masukkan irisan bawang bombay dalam blender lalu haluskan.
  3. Campur sayuran dan keju. Tambahkan bawang bombay dan minyak zaitun lalu aduk rata. Cicipi dengan garam dan merica.
  4. Dalam mangkok terpisah, kocok telur sampai mengembang.
  5. Sedikit demi sedikit masukkan tepung dan aduk rata.
  6. Masukkan sayur campur dan aduk lagi sampai semua bahan tercampur.
  7. Olesi loyang roti (loaf tin) dengan mentega.
  8. Masukkan adonan dalam loyang dan ratakan permukaannya.
  9. Panggang selama 45 menit atau sampai kecoklatan dan matang. Untuk mengecek apakah roti sudah matang, gunakan tusuk sate metal lalu tusuk roti. Jika tidak ada bahan yang melekat pada tusuk metal, berarti roti sudah matang. Jika sebaliknya, panggang roti kembali selama beberapa menit. Bila perlu kecilkan suhu oven.
  10. Keluarkan roti dari loyang dan iris menjadi 12 potong.
  11. Sajikan dengan salat segar dan sedikit saus tomat.

Catatan:

  • Jika courgette susah didapat, ganti dengan bahan sayur lainnya seperti brokoli.
  • Tepung self-raising bisa dibuat dengan cara: tambahkan 1  1/2 sdt backing powder + 1/2 sdt garam untuk setiap cangkir tepung terigu.

The Power of Gummy Bear

Gummy Bear

A Tale about Gummy Bears, Life ain’t always fair

(Sebuah puisi karya FunkyMami…)

Senin: Lima Gummy Bear meratapi nasib dalam gelas
Selasa: Satu Gummy Bear bebas,  sisanya memupuk harapan
Rabu: Tiga Gummy Bear jatuh dalam gelas, yang lain menghibur
Kamis: Dua Gummy Bear diambil keluar, yang lain protes
Jum’at: Tiga Gummy Bear terlempar dalam gelas, yang lain pasrah
Sabtu: Dua Gummy Bear masuk dalam gelas, sisanya was-was
Minggu: Semua Gummy Bear keluar dari gelas dan bersorak ‘FREEDOM’
Tapi…
Nyam…nyam…nyam…semua Gummy Bear tak sempat meratapi nasib karena sudah berada dalam perut si Monster!

Begitulah sekilas kisah tentang nasib Gummy Bear di keluarga FunkyMami. Tak lain dan tak bukan hanyalah sebagai obyek permainan buat si Bogang dan si Kutilang. Yaitu sebuah permainan tentang ‘Si baik dan si buruk’. Barang siapa yang banyak berbuat baik selama seminggu, maka dia akan menuai Gummy Bear sebanyak-banyaknya.

Seperti kata pepatah Arab: ‘Hukum anak dengan Gummy Bear’. *Belum pernah dengar ya? Nggak bisa bahasa Arab sih! Qiqiqi, itu memang karangan FunkyMami*. Yup, hukum anak dengan sesuatu yang menyenangkan. Agak aneh memang. Tapi yah, begitulah si FunkyMami. Agak-agak gimana gitu…

Imbalan Vs. hukuman

The point is, dibalik penampilannya yang sering terkesan seperti ibu tiri, FunkyMami bukanlah tipe penghukum *bener, sumpah!*, kecuali untuk hal-hal yang sangat fatal. Lalu bagaimana dengan kesalahan-kesalahan kecil seperti sengaja memukul adik atau berbohong? Kalau hukuman ‘Berdiri di bawah tangga’ atau ‘Pergi ke kamar dan jangan keluar sampai dipanggil’, tidak bisa diterapkan, maka harus ada solusi baru, kan? FunkyMami sudah nemu – IMBALAN. Menghukum anak dengan imbalan adalah solusi terbaik buat FunkyMami. Jika berbuat baik, anak akan mendapat imbalan. Jika berbuat jelek, maka imbalan tersebut terpaksa ditarik kembali. Bad news: Anak merasa sangat kecewa jika imbalan yang sudah dia dapat ditarik kembali. Good news: Anak akan berusaha bagaimana caranya untuk mendapatkan imbalannya kembali, atau kalau bisa mendapat lagi, lagi dan lagi. Di akhir minggu anak mendapat kesempatan untuk melihat sendiri perkembangan tentang sikap baik buruknya selama seminggu.

Bagi anak, imbalan bukanlah semata hadiah, tapi semacam parameter yang menunjukkan tingkat kebaikan atau keburukan diri sendiri. Kebanggaan dan kekecewaan yang ditimbulkannya adalah pemicu semangat anak untuk memperbaiki diri sendiri. Efek yang sulit di dapat dari sebuah hukuman. Hukuman cenderung membuat anak memberi lebel diri sendiri bahwa dia bukanlah anak yang baik sehingga layak dihukum. Yang lebih parah, hukuman sering membuat anak merasa menyerah untuk berbuat lebih baik karena anak percaya apapun yang akan dia lakukan pada akhirnya pasti dihukum. Jadi buat apa memperbaiki diri?

Bentuk imbalan

Kenapa harus Gummy Bear? Tidak harus. Imbalan tersebut bisa berupa barang-barang lain yang disukai anak. Bisa sticker, kelereng, atau apa saja asalkan bentuknya kecil sehingga mudah dikumpulkan dalam suatu tempat. Jika yang manis-manis adalah favorit anak, usahakan jangan menggunakan coklat atau permen lolly. Memang, anak akan berusaha berbuat sebaik-baiknya demi mendapatkan banyak coklat. Tapi apa enaknya punya anak baik kalau giginya ompong? Bagi yang suka manis-manis Gummi Bear atau produk semacam adalah pilihan terbaik. Selain bentuknya kecil dan imut, permen ini juga tidak mengandung gula sehingga tidak merusak gigi. Lagipula, anak mana sih yang nggak suka Gummy Bear?

Penerapan

  1. Gunakan wadah untuk mengumpulkan imbalan. Jika perlu terbuat dari bahan gelas sehingga mudah untuk melihat berapa jumlah imbalan yang sudah terkumpul. Hal ini bisa memberi semangat anak untuk mengumpulkan lebih banyak.
  2. Mulai dengan beberapa imbalan sebagai perangsang.
  3. Setiap kali anak melakukan hal-hal yang termasuk dalam peaturan, masukkan satu imbalan, atau suruh anak untuk memasukkan sendiri. Dan sebaliknya, ambil satu imbalan untuk setiap pelanggaran.
  4. Hitung jumlah imbalan pada akhir minggu atau biarkan anak untuk menghitung sendiri dan menikmati hasilnya.
  5. Kosekuen atas apapun reaksi anak. Jika anak kecewa atau marah setelah kehilangan imbalan, jangan menyerah. Kekecewaan adalah pangkal perbaikan sikap.

Musik bisa meningkatkan kecerdasan?

Image source: www.dailymail.co.uk

10 tahun yang lalu, seorang ahli psikologi Amerika menemukan bahwa mendengarkan lagu-lagu Mozart bisa membuat orang lebih cerdas. Nggak cuman manusia, tikus pun bisa terkena ‘Mozart Effect’ ini. Di sebuah penelitian, beberapa tikus bisa berlari lebih cepat dalam sebuah maze setelah mendengarkan sebuah piano concerto, dibanding setelah mendengarkan musik ekperimental dari komposer Philip Glass. *Tikus sih..coba kalo FunkyMami, Mozart nggak bakal ngeffect. Bukannya lari-lari, yang ada malah zzz…zzzz…*

Para orang tua langsung memborong CD dan DVD-nya Mozart, biar si baby bisa jadi orang seperti Steve Jobs *Eh bentar, 10 tahun yang lalu Apple belum heboh ya? Oke lah, Bill Gates…* Sayangnya mitos Mozart effect ini tidak didasari dengan bukti-bukti yang kuat. Para ahli sudah melakukan beberapa penelitian lebih dalam, tapi belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan akhirnya para pendukung terori ini berkesimpulan, bahwa cara kerja musik Mozart adalah menstimulasi dan membuat pendengar releks, sehingga pendengar bisa lebih berkonsentrasi. Itu aja… Sementara beberapa test menunjukkan bahwa membacakan buku cerita juga memberikan efek mental yang sama. *Nah, tuh kan? Untung FunkyMami beli DVD-nya Shahrukh Khan…Kuch Kuch Hota Hai…ser…ser…lebih asyek…*

Dr. Jane Stanley, pemimpin program penelitian terapi musik di Florida State University mengatakan, hanya mendengarkan musik atau nonton DVD tidak memberikan pelajaran tertentu bagi bayi. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang menonton DVD Mozart  hanya melihat gambar yang berwarna-warni tetapi tidak memproses informasi aural (informasi yang berhubungan dengan pendengaran). Dia juga menambahkan, cara terbaik untuk mengikat perhatian bayi dan meningkatkan fungsi kognitif-nya adalah dengan menyanyikan lagu-lagu berirama dengan menyentuh dan berinteraksi sebanyak mungkin. Cara ini tidak hanya menciptakan ikatan yang kuat dengan bayi, tapi juga mengajarkan bayi tentang kata-kata dan irama.

Oke, ternyata untuk bayi Mozart nggak begitu ngefek. Lalu bagaimana dengan anak?

Efek musik pada kenaikan IQ

Musik bisa membuat anak lebih cerdas hanya jika anak benar-benar terjun di dalamnya. Belajar menyanyi atau alat intrument tertentu memberikan efek yang besar. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak umur 6 tahun dengan pelajaran musik tambahan mengalami kenaikan IQ 3 points lebih tinggi dibanding dengan anak-anak yang tidak mendapat pelajaran musik tambahan, atau  yang tidak mendapat pelajaran musik sama sekali.

Efek musik pada keampuan baca

Penelitian lain menunjukkan pelajaran musik bisa membantu meningkatkan kemampuan baca pada anak. Sebuah penelitian dilakukan pada anak-anak berumur 4 tahun sampai kelas 1 SD dengan memberi pelajaran musik Kodály – jenis musik yang melibatkan banyak tepuk tangan untuk membentuk irama dengan lagu-lagu bersajak. Pada akhir kelas 1 SD, kemampuan literasi anak-anak ini lebih maju satu tahun dibanding anak-anak lainnya.

Efek pelajaran musik tambahan untuk kemampuan matematika dan bahasa

Sebuah penelitian jangka panjang di Swiss yang diterapkan pada seribu anak lebih menemukan bahwa anak yang mendapatkan pelajaran musik tambahan mendapat nilai ujian lebih tinggi  untuk kemampuan kognitif dan kemampuan sosial. Penelitian tersebut dilakukan pada 70 kelas. Separoh dari jumlah anak mendapat pelajaran musik tambahan disamping pelajaran musik berdasarkan kurikulum. Sisanya tidak mendapatkan pelajaran musik tambahan.

Kemudian anak yang mendapat pelajaran musik tambahan harus mengurangi jam pelajaran Matematika dan Bahasa. Setelah tiga tahun, hasil tes menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan pelajaran musik tambahan tidak mendapatkan nilai Matematika dan Bahasa lebih rendah dibanding anak yang mengikuti jam pelajaran Matematika dan Bahasa secara penuh, meskipun mereka talah megurangi jam pelajaran kedua bidang tersebut. Para guru juga melaporkan, anak yang mendapat pelajaran musik tambahan cenderung mempunyai sikap penolong lebih tinggi dan lebih mudah bekerja sama dalam kelas dibanding anak lainnya.

Sepertinya musik bisa membuat perbedaan pada perkembangan anak, hanya jika mereka aktif di dalamnya. Hanya mendengarkan musik klasik tidak akan memberikan efek janka panjang, meski Mozart sekalipun. *Gimana? Dengerin Evi Tamala aja yuk?? Lebih yahud!*

Sumber info: Junior Magazine

Memberantas kutu kepala

PUNYA KUTU KEPALA? SIAPA TAKUT! HAMPIR SEMUA ANAK PERNAH MENGALAMINYA KOK!

Kali ini FunkyMami pingin membahas soal kutu kepala (lagi), soalnya tema ini lagi hangat-hangatnya di sekolah si Kutilang. Semua orang tua diharuskan bergerak cepat untuk membantu memberantas kasus kutu kepala yaitu dengan cara memeriksa kepala anaknya masing-masing, dan melapor ke sekolah jika ditemukan kutu atau telurnya. Meski topik ini nggak sepanas topik bird flu, tanggapan orang tua yang serius atas kasus ini benar-benar melegakan.

Flash back 30 tahun yang lalu…FunkyMami pernah punya teman SD yang berkutu. Si anak yang sebenarnya cantik ini selalu diolok dengan kata-kata yang menyakitkan di sekolah, karena hampir tiap helai rambutnya ditumbuhi telur kutu hingga warna rambutnya tidak hitam lagi (masih suka merinding tiap kali mengingatnya). Si anak dikucilkan, tidak dipedulikan bahkan kadang-kadang mendapat serangan fisik dari anak-anak nakal. Dia selalu sedih dan menyendiri. Yang lebih parah, si anak juga bukan tergolong murid yang pintar. Dia nggak naik kelas sudah dua kali. Nggak heran. Jika sekolah sudah menjadi tempat penyiksaan sehari-hari baginya, kenapa harus peduli belajar? Kalau mengingat dia, FunkyMami suka sedih. Kadang penasaran, di mana keberadaan dia sekarang? Meski FunkyMami nggak ikut-ikutan mengolok, tapi FunkyMami dulu juga takut duduk dekat-dekat dengan dia. Takut tertular. Ah, betapa dunia anak bisa sangat kejam. Hanya karena kutu kepala, masa depan dan jiwa anak bisa terkoyak. Tapi mudah-mudahan hal seperti ini hanya terjadi di tahun 70-an. Mudah-mudahan sekarang orang tua dan pihak sekolah lebih bijaksana dalam menangani kasus kutu kepala.

Kutu kepala bukanlah penyakit. Bukan juga masalah sosial yang yang hanya dialami oleh anak-anak dari golongan kelas bawah. Mitos telah mengajarkan banyak orang, bahwa kutu kepala hanya dimiliki anak-anak kurang mampu, yang sering dilalaikan oleh orang tua karena kesibukan mencari nafkah, sehingga pendidikan tentang kebersihan sering terabaikan. Tidak betul. Masalah kutu kepala bisa dialami hampir semua anak, bahkan orang dewasa. Sejarah tentang kutu kepala sudah begitu tua, bahkan setua umur manusia sendiri.

Kutu kepala menular lewat kontak rambut

Kutu kepala bisa berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya melalui kontak rambut secara langsung, misal: saat berpelukan, bermain gulat atau saat tidur bersama dalam perkemahan. Makanya nggak heran kalau kasus kutu kepala sering terjadi di pada anak usia TK atau SD, di mana anak masih suka bermain bersama. Kutu kepala tidak bisa meloncat maupun terbang dari satu kepala ke kepala lainnya. Juga tidak bisa bertahan hidup lebih dari satu hari tanpa ada sarana kepala manusia untuk mencari makan (darah) dan berkembang biak.
Perlu diketahui: Kutu kepala bukanlah penyebab penyakit. Tidak juga ditularkan dari binatang piaraan.

Tanda-tanda adanya kutu kepala

Kutu kepala tidak merambat seperti kutu daun dan tidak gampang terdeteksi oleh mata. Binatang yang besarnya antara 2-3 mm ini bisa menyesuaikan warna dengan rambut si ‘tuan rumah’. Sebaliknya, telur kutu lebih mudah ditemukan, biasanya menempel di rambut di daerah-daerah ‘posisi tidur’, yaitu belakang telinga dan tengkuk. Berkembang biaknya kutu kepala bisa berlangsung lama tanpa diketahui atau dirasakan. Biasanya setelah agak lama, kulit di daerah belakang telinga dan tengkuk terasa gatal, atau kadang muncul bintik-bintik merah pada kulit di belakang telinga. Jika tanda-tanda ini muncul, maka tindakan pemusnahan harus segera dilakukan.

Penyebab rasa gatal adalah bekas gigitan dan hisapan kutu pada kulit. Kutu memerlukan waktu sekitar 2 sampai 3 jam untuk ‘mengebor’ kulit (manusia tidak bisa merasakan) dan meninggalkan liurnya pada lubang. Liur ini berguna untuk menahan pengeringan darah terlalu cepat yang bisa menyumbat jalan darah. Jika area gigitan ini digaruk terlalu keras, maka sering timbul infeksi pada kulit.

Pemberantasan kutu kepala

Banyak anjuran cara tradisional untuk memberantas kutu kepala. Silahkan kunjungi link-link di bawah untuk keterangan lebih lanjut. Salah satu bahan yang sering digunakan untuk pemberantasan tradisional adalah cuka dan mayonis. Apakah cara ini bisa memberantas kutu 100%, belum pernah terbukti. Yang jelas, di apotik dijual berbagai produk pemberantas kutu kepala. Banyak produk pemberantas kutu kepala yang mengandung racun serangga, yang bisa mematikan sistem kelenjar pada kutu. Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan sebelum menggunakan produk jenis ini pada balita, anak kecil, ibu hamil dan menyusui dan yang memiliki alergi tertentu.

Yang juga cukup ampuh adalah produk yang mengandung Dimethicone atau Silicone oil. Minyak silikon berfungsi menutup jalan pernafasan yang mematikan kutu. Apapun jenis produk yang digunakan, sangat dianjurkan membaca petunjuk pakai dan keterangan tentang produk tersebut.

Mengulang pengobatan

Tidak cukup dengan hanya satu kali perawatan untuk membinasakan semua kutu dan telurnya. Ada kemungkinan beberapa kutu masih hidup dan mengerami telurnya, sehingga muncul kutu-kutu baru. Untuk itu perlu dilakukan pengulangan perawatan setelah 8 sampai 10 hari. Hanya dengan cara ini siklus pengembangbiakan bisa dihindari.

Karena kutu kepala hanya bisa hidup dan berkembang biak di kepala manusia, maka sangat dianjurkan untuk membersihkan total barang-barang yang memungkinkan penularan.

  • Cuci sisir, sikat rambut, jepit dan bando dengan air panas dan sabun.
  • Ganti baju tidur, sprei, sarung bantal dan selimut, begitu juga handuk mandi.
  • Masukkan tutup kepala atau jilbab, topi, scarf dan barang-barang penutup kepala lainnya ke dalam plastik tertutup selama 3 hari.

Masalah kutu kepala bukanlah masalah individu, melainkan masalah semua anggota keluarga dan komunitas yang bersangkutan, seperti TK dan sekolah. Orang tua diharapkan melaporkan ke guru jika anaknya mempunyai kutu kepala dan sebaliknya, sehingga kasusunya bisa segera diinformasikan kepada orang tua lainnya dan segera melakukan pengecekan pada anaknya masing-masing.

Hanya dengan penanggulangan bersama pemberantasan total kutu kepala bisa dilakukan. Sudah saatnya kita menghilangkan sikap prejudis bagi korban kutu kepala, karena masalah ini bisa menimpa ke siapa saja, tanpa mengenal status sosial.

Rekomendasi bacaan:

Yang baru
Yang suka